INDONESIA BATAL BELI SUKHOI

Kota-Bunga I NDONESIA nota kesepahaman dengan Rusia di sela kunjungan kerja Presiden Joko Widodo ke Rusia pada Rabu-Jumat pekan lalu. Selain di bidang perta menandatangani limahanan, kedua negara menjalin kerja sama di bidang ekonomi, energi, budaya, dan perikanan. Presiden menegaskan, kerja sama di bidang pertahanan harus menekankan aspek alih teknologi, produksi bersama, pendidikan, dan pelatihan. Sebelumnya, penasihat Kremlin, Yuri Ushakov, menyatakan Rusia akan meneken kesepakatan dengan Indonesia untuk memasok persenjataan. Berdasarkan data dari situs Rostec, Indonesia bakal membeli pesawat angkut militer Airbus A400M dan delapan unit jet multifungsi Sukhoi Su-35 Flanker.

Tapi Indonesia ternyata tidak jadi membeli pesawat Sukhoi. Menteri Luar Negeri Retno Marsudi mengatakan Indonesia harus menyelesaikan beberapa masalah. ”Sampai detik ini, peristiwa itu tidak ada karena ada beberapa hal yang harus kami selesaikan,” kata Retno di sela kunjungan. Di bidang ekonomi, kedua negara sepakat mendorong investasi Rusia di sektor maritim dan infrastruktur, seperti pembangunan kereta api dan pelabuhan. Pengembangan pembangkit listrik juga akan menjadi fokus investasi Rusia di Indonesia. Putin menegaskan, Rusia mendukung Indonesia dalam pembangunan infrastruktur berskala besar. ”Rusia tertarik dalam pengadaan berbagai jenis kapal,” ujar Putin.

KUBILAI KHANDI MUNAS GOLKAR

M USYAWARAH Luar Biasa Golkar di Nusa Dua, Bali, 17 Mei 2016, yang memilih Setya Novanto seba Nasional – gai ketua umum, terbilang mewah. Panitia memesan 17 hotel bintang empat dan lima di kawasan Nusa Dua Convention Centre. Biaya untuk sewa gedung dan hotel itu saja sekitar Rp 25 miliar. Pertemuan yang ramai, dengan biaya besar, sudah sering dilakukan partai ini sejak awal berdiri. Tempo edisi 15 September 1973 menulis ihwal musyawarah nasional (munas) yang pertama Golkar, dalam tulisan berjudul ”Kub Lai Kan Terusir di Surabaya”. Panitia munas yang berlangsung pada 4- 9 September 1973 di Surabaya itu memesan semua hotel. Mereka menyewa Gelora Pancasila sebagai tempat munas dengan biaya Rp 3,5 juta. Ada yang unik dari munas pertama Golkar itu. Pertama, sebagian besar dari 287 anggota panitia berasal dari ABRI. Mereka membawa pistol di pinggang dan walkietalkie. Mereka meredam kritik, termasuk menyensor buletin yang dibagikan kepada peserta. ”Munas ini bagaikan pertemuan intel saja,” kata seorang peserta dari Sumatera kepada Tempo. Kedua, peserta tidak perlu memeras otak menyusun program atau berdebat keras.

Semua konsep telah disiapkan panitia. ”Selaku utusan, kami hanya tukang aminlah,” ujar seorang peserta yang tidak bersedia disebutkan namanya. Malahan, pimpinan sidang komisi hingga pleno kewalahan dengan teriakan ”setuju, setuju” sebelum mereka selesai membacakan rancangan. Termasuk pengangkatan Amir Murtono sebagai Ketua Umum DPP Golkar. Ketiga, sehari sebelum munas, peserta diajak kongko-kongko di Teater Pandaan. Mereka menonton drama dengan lakon Pengangkatan Raden Wijaya sebagai Raja Majapahit. Ini cerita sejarah yang terjadi pada 1292, ketika angkatan perang Kerajaan Mongol menyerbu Tanah Jawa. Raden Wijaya berhasil memperdaya pasukan yang dikirim Kaisar Kubilai Khan itu untuk menyerang pesaingnya. Setelah berhasil, pasukan Raden Wijaya menyerbu tentara Mongol yang sudah letih. Sebagian tentara lari tunggang-langgang, berlayar ke kampungnya. Raden Wijaya kemudian dilantik sebagai Raja Majapahit.

Saat adegan penyerahan selempang dan mahkota, tiba-tiba terdengar teriakan ”setuju” dari tempat duduk penonton. Drama pengangkatan Raden Wijaya sebagai Raja Majapahit ini banyak dihubungkan dengan jalannya Munas Golkar. Seorang peserta munas dalam logat Jawa berkata, ”Memang tidak ada pilihan selain setuju.” Dalam munas tersebut, Liem Biang Kie alias Jusuf Wanandi (pendiri Centre for Strategic and International Studies/CSIS) tersisih dari pusat kekuasaan di Golkar. Sebaliknya, laskar bantuan yang menyelamatkan negeri dari kekuasaan Kubilai Khan digambarkan seolah-olah sama dengan peranan Hankam (Mabes ABRI) yang makin kokoh. Simbolisasi lain pada panglima yang merasa berjasa tapi diabaikan kemudian meninggalkan pentas. Oleh sebagian peserta munas ini diartikan sebagai Jenderal Suhardiman, pendiri Sentral Organisasi Karyawan Swadiri Indonesia (SOKSI), yang semula disebut-sebut sebagai calon ketua dewan pimpinan pusat. Pada hari ketiga munas, Suhardiman kesal dan kembali ke Jakarta. Munas Golkar di Surabaya, 4-9 September 1973, akhirnya memilih 17 orang DPP, dengan ketua umum Jenderal Amir Murtono dan dua ketua, yaitu Brigjen Manihuruk dan Nely Adam Malik. Adapun sekretaris jenderal dijabat kembali oleh Brigjen Saparjo dan bendahara ditunjuk Murdopo

Hantu Belau PKI

SEJARAH membuktikan paham komunisme tak dapat tumbuh subur di sebagian besar negara. Saat ini hanya beberapa negara yang masih mempertahankan ideologi komunis, itu pun dengan berbagai penyesuaian. Vietnam, misalnya, mengadopsi kapitalisme sejak 1986 melalui kebijakan Doi Moi yang membuka pasar negeri itu. Cina malah sudah menyisipkan prinsipprinsip demokrasi ke dalam sistem pemerintahannya. Praktis hanya Korea Utara yang masih murni berpegang pada jargon ”sama rata, sama rasa”. Bagaimana dengan Indonesia? Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara Nomor XXV Tahun 1966 masih berlaku. Artinya, komunisme masih dilarang. Dan, sejak diberangus, Partai Komunis Indonesia tak pernah bangkit.

Tapi akhir-akhir ini aparat dan beberapa kelompok masyarakat tiba-tiba beringas, merazia segala sesuatu yang berbau komunis. Mereka beralasan ada tanda nyata komunisme tengah bangkit kembali di Indonesia. Mereka menyita kaus bergambar palu-arit dan buku tentang aliran ”kiri” serta melarang diskusi dan pemutaran film mengenai kehidupan tahanan politik. Aksi menggelikan ini marak setelah pemerintah menggelar Simposium Nasional ”Membedah Tragedi 1965”, dan tak surut meski Presiden Joko Widodo sudah mengingatkan agar aparat tidak berlebihan. Dalam jajak pendapat di Tempo. co, hanya sebagian kecil responden yang percaya bahwa komunisme merupakan hantu belau yang masih terus gentayangan. Sebagian besar dari mereka meyakini, sebagai paham politik, komunisme sudah bangkrut dan kehilangan daya tarik.