Mencegat OPT Selamatkan Panen

Salah satu penyebab tingginya harga cabai di pasaran adalah sedikitnya pasokan cabai aki bat petani mengalami gagal panen. Kega galan panen ini dapat dipicu gangguan cuaca yang ekstrem dan Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT). “Pada musim pancaroba seperti ini banyak kasus penyakit patek jadi tanaman terganggu. Itu merupakan ancaman karena produksi akan turun. Kalau barang sedikit artinya harga naik,” papar Abdul Hamid, Bendahara Umum Asosiasi Agribisnis Cabai Indonesia (AACI).

Selain patek, menurut Dedy Koerniawan, Head of Marketing Commercial Unit Indonesia PT Syngenta Indonesia, menyebut virus kuning sebagai penyebab potensi produksi berkurang drastis bila tidak ditangani. Memang, tanaman yang terkena virus kuning tidak akan mati tetapi menjadi kerdil. “Tanaman dengan potensi 1,5–2 kg (per tanaman) tidak sampai 0,5 kg saat panen. Makanya perlu dieradikasi dan dibakar,” terang Dedy.

Organisme Pengganggu Tumbuhan

Sementara itu Syawaludin, Service and Sales Representative DuPont Indonesia area Bogor, Sukabumi, dan Cianjur, membagi hama yang menyerang tanaman cabai menjadi dua, yaitu hama perusak daun dan hama pengisap penusuk. “Saat ini paling banyak hama trips dan lalat putih. Ini sangat berbahaya karena keduanya merupakan vektor pembawa virus.” jelasnya saat diwawancarai AGRINA pada acara Pekan Peramalan Organisme Pengganggu Tumbuhan di Balai Besar Peramalan Organ isme Penggangu Tumbuhan (BBPOPT), Jatisari, Karawang (25/5). Berdasarkan pemantauan di lapangan, sudah banyak daerah terkena hama lalat putih atau kutu kebul yang membawa virus kuning seperti Garut, Lem bang, Cipanas, sampai Tasikmalaya.

Dedy mengingatkan, fenomena La Nina atau kemarau basah yang diprediksi terjadi tahun ini berpotensi menyebabkan banyaknya hama dan kombinasi penyakit yang menyerang tanaman cabai. “Kemarau basah akan menyebabkan terjadinya perubahan signifikan dari siang ke malam karena curah hujan. Karena sebab itu, pasti patogen-patogen penyakit akan lebih mudah berkembang sehing ga kemungkinan penyakit pun akan lebih banyak,” jelasnya. Ia menambahkan, “Hama akan banyak terutama trips, penyakit fusarium dan busuk buah atau antraknosa. Virus kuning bahkan sudah seperti endemik karena menyerang hampir di semua sentra.” Di sisi lain, lanjut dia, petani cabai akan tertolong dengan adanya kemarau basah karena tidak harus menyiram tanamannya.

Meskipun begitu, potensi penyakit akan lebih banyak sehingga petani harus bisa mengontrol dampak kondisi cuaca dengan pemeliharaan tanaman yang lebih baik. Perawatan ini dapat dilakukan secara manual maupun pe ngendalian hama secara kimiawi agar tanaman lebih sehat. Menurut Dedy, tanaman cabai monokultur akan lebih terarah dalam pengendalian hamanya daripada polikultur. Serangan hama pada tanaman polikultur lebih variatif tergantung jenis tanaman yang dibudidayakan. Selain itu, potensi penyakit juga lebih tinggi karena pertanaman lebih rapat.

Pencegahan dan Perawatan

Lebih jauh Dedy menguraikan shading net atau green house merupakan upaya untuk mengontrol cuaca. “Istilah pertaniannya itu melakukan modifikasi lingkungan di sekitar tanaman sehingga kelembapan, sinar matahari pada situasi yang optimal untuk pertumbuhan tanaman,” katanya. Pertumbuhan tanaman yang optimal menjadikan daya tahan tanaman lebih baik. Pengendalian OPT juga dapat dilakukan dengan menggunakan agen hayati. Wahyu Abdul Azis, salah satu penyuluh pengendali OPT Balai Proteksi Tanaman Pangan dan Hortikultura (BPTPH) Provinsi Jawa Barat mengatakan, BPTPH Jabar memiliki agen hayati yang dapat digunakan untuk mengendalikan hama tersebut.

“Kami punya agen hayati yang kami sebut dengan Plant Growth Promoting Rhizobacteria (PGPR) atau bakteri perakaran pemacu pertumbuhan tanaman,” jelasnya. PGPR produksi sub unit pelayanan PTPH wilayah V dapat juga digunakan untuk pencelupan. PGPR mengandung bakteri Pseudomonas fluorescence dan Bacillus subtillis yang salah satu perannya sebagai pesaing patogen dalam mendapatkan makanan sehingga pertumbuhan patogen berkurang. Untuk tanaman cabai, PGPR diambil 10 ml de ngan 1 liter air. Benih terlebih dahulu dicuci hing ga bersih kemudian benih cabai direndam sela ma dua jam dalam larutan tersebut. Sebelum dita nam/ disebar, benih tersebut dikeringkan-anginkan di tempat yang teduh.

Sisa rendaman dapat digunakan untuk menyiram persemaian. Untuk bibit/setek atau biakan vegetatif, bibit direndam beberapa saat saja kemu dian langsung di tanam. Dedy merekomendasikan perawatan tanaman dengan membentuk cabang-cabang yang lebih baik supaya tanaman tidak terlalu rimbun. Jika terlalu rimbun, hujan akan menyebabkan tanaman gampang patah, roboh dan terlalu lembap. Pena taan cabang yang baik akan mengurangi kelembapan di sekitar tanaman, aerasi lebih baik dan akan meningkatkan persentase buah yang jadi. “Setelah mendapat perawatan yang baik, mereka tinggal mengawal dan melindungi tanaman dari serangan hama dan penyakit. Mereka bisa menggunakan pestisida untuk itu,” tutup Dedy

Stargate 600SC Kendalikan Vektor Virus Kuning

Virus kuning dapat menyebabkan petani cabai gagal panen. “Namun pada serangan berat jika dipertahankan dengan nutrisi, kehilang an hasilnya sekitar 60%,” papar Agus Suryanto, Senior Crop Manager and Plant Nutrient PT Bina Guna Kimia (FMC Agricultural Solutions). Nekat mempertahankan ta nam an cabai sudah terserang virus hanya akan mendapatkan cabai berkualitas jelek dan hasil tidak maksimal. Virus kuning, tambah Agus, ditularkan oleh vektor utama Bemisia­tabaci alias kutu kebul.

Selain cabai, kutu kebul juga memiliki inang terong dan pepaya. “Kutu kebul kalau sudah menyerang tanaman cabai sakit, maka dia akan persisten. Ia akan terus membawa virus kuning sampai dia mati,” terang Agus di sela acara Pekan Pe ramalan OPT di Balai Besar Peramalan Organisme Pengganggu Tumbuhan (BBPOPT) Jatisari, Karawang (24/5). Karena itu banyak perusahan pestisida multinasional kini berlomba mengeluarkan produk untuk memerangi kutu kebul. Antisipasi Dini FMC baru saja merilis produk baru insektisida Stargate 600SC untuk mengendalikan kutu kebul. “Untuk mengendalikan virus kuning, kita edukasi petani agar mengendalikan vektornya. Petani dianjurkan melakukan antisipasi sejak awal untuk menghindari virus kuning. Sehari sebelum pindah tanam, tanaman harus diimunisasi terlebih dahulu,” terang Agus, alumnus Fakultas Pertanian, UNS Surakarta.

Caranya dengan mencelupkan polibag bibit cabai ke dalam larutan fungisida Flasher 250SC dengan konsentrasi 1 ml/l. Setelah pencelupan, bibit yang dipindahtanamkan tidak sempat layu sehingga tanaman tetap kuat menghadapi serangan virus kuning atau petani mengenalnya dengan istilah langsung ngelilir. “Flasher ini sudah menjadi kebutuhan po kok pe tani cabai seperti stimuno pada manusia untuk me ning katkan da ya ta han tubuh,” papar Agus. Selanjutnya jika terdapat serangan kutu kebul perlu segera diantisipasi dengan insek tisida Stargate 600SC. Stargate 600SC merupakan in sektisida racun kontak dan lambung yang berbahan aktif klotianidin 600 g/l juga memiliki efek repelen atau penolak. Dosis anjurannya sebanyak 200 ml per hektar. Produk ini dapat ditemukan di pasaran dengan harga Rp125 ribuRp130 ribu per 100 ml.

Selain menekan kutu kebul, Stargate 600SC pun efektif mengendalikan hama thrips (Thrips­ par­- vispinus) dan kutu daun (My­zus persicae) yang juga men jadi hama utama tanaman cabai. Stargate 600SC sudah teruji di daerah yang benar-benar terserang virus kuning dan terbukti efektif. “Hasil aplikasi Stargate 600SC menunjukkan tanaman bebas dari serangan virus kuning. Sementara tanaman di sekitarnya yang tidak menggunakan Stargate 600SC semua daunnya menguning dan sema kin keriting,” tandas Agus. Pada pertanaman cabai yang telanjur terserang virus kuning, Agus menyarankan untuk mengaplikasi Boom Flower dan pupuk spesial Microferti Shield (Allwin Wonder). Boom Flower berfungsi membentuk tunas baru dan menjaga agar serangan virus kuning tidak semakin parah. “Kombinasi keduanya memang tidak membuat war na kuning kembali hijau, tapi kuning nya semakin berkurang dan buahnya berkualitas lebih baik,” urainya. Pupuk spesial Microferti Shield berfungsi menjaga kandungan nitrat yang diolah dari nitrit pada pupuk Urea, NPK, dan ZA dapat diserap secara optimal. “Diaplikasikan dengan cara dikocor di perakaran dengan konsentrasi 1 g/l dapat menghemat Urea 50%,” jelas Agus. Hasil pada tanaman cabai sehat dapat menaikkan hasil sekitar 25%- 30%. Lihat Selebihnya : kota-bunga.net