Padi Tetap Sehat Saat Cuaca Lembap

Menerapkan PHT Terpadu akan Membuat Tanaman Padi Sehat

Menurut Bonjok Istiaji, Dosen Proteksi Tanaman, Fakultas Pertanian IPB, perlindungan padi saat kemarau basah dengan memelihara keseimbang an penerapan ketahanan agroekosistem atau lingkungan pertanaman padi. Dengan menjaga agroekosistem, secara alami tanaman memiliki penjaga dari dalam berupa mikroba tanah, dan pen jaga luar berupa mu suh alami, seperti pre dator penyakit. Pa da berbagai stadia tertentu, mikroba tanah me nekan penyakit se ki tar 25%, sedangkan mu suh alami hingga 50%. “Ketahanan agroekosistem bisa mendesain ekosistem yang ku at yang tahan terhadap OPT dan antispasi kemarau basah,” imbuhnya.

Caranya melalui PHT biointensif, yaitu mengembalikan jerami ke lahan, memperkuat imun tanaman dengan bakteri dari akar bambu, dan menggunakan pupuk organik. Pupuk organik akan menjaga kestabilan pH dan suhu, menahan unsur hara tanah, tempat hidup mikroba, dan meng hidupkan rantai makanan. “Kita ingin membangun jejaring makanan sehingga saat hama ada, musuh alami juga tersedia,” urai Bonjok. Yoyo Suparyo, praktisi pertanian menambahkan, untuk meningkatkan hasil produksi padi, penggunaan pupuk ma kro primer, makro sekunder, dan mi kro harus lengkap. “Kalau tanaman nutrisinya kurang, akan menjadi masalah.

Dengan pemberian pupuk makro primer saja, produksi padi paling banyak 6 ton/ha. Kalau ditambah makro sekunder mungkin bisa 8-8,5 ton/ha. Apalagi ditambah mikro, bisa 10 ton/ha,” ucapnya. Dudy menyarankan pengendalian penyakit menggunakan fungisida. Untuk pe ngendalian blas, ada fungisida Blastgone. Aplikasinya sejak perendaman benih sebanyak 1,5 g/kg benih untuk menghindari serangan blas sejak persemaian. Lalu pada umur 20 HST un tuk mencegah blas daun, 35-40 HST untuk mencegah penyakit di daun bendera, dan 60 HST agar malai terhindar dari patah leher. “Blastgone 4 kali pe nyemprotan sebanyak 300 g/ha,” katanya.

Perlindungan busuk pelepah dan bercak daun bergaris menggunakan fungisida Hexa dan Boom Flower. Hexa bersifat sistemik dan kuratif sehingga bisa mencegah dan mengobati padi yang sudah terkena penyakit. Penggunaannya pada umur 40 dan 60 HST dengan dosis 750 ml/ha. Selain itu, Hexa juga melindungi pengisian gabah secara optimal sehingga meningkatkan rendemen sekitar 15%. Sedangkan Boom Flower berupa un sur hara mikro yang berfungsi mem per cepat pemulihan tanaman saat ter kena penyakit. Dosisnya sebanyak 1 L/ha berbarengan dengan aplikasi Hexa. Sedangkan pengendalian kresek yang diakibatkan oleh bakteri, perlu penguatan antibodi tanaman. “Kami merekomendasikan fungisida yang bersifat bisa menguatkan antibodi tanaman atau memberikan antibodi tanaman, yaitu Flasher. Diaplikasi 3 kali: umur 20, 40, dan 60 HST, dengan dosis 250 ml/ha untuk preventif dan menguatkan tanaman,” lanjut Dudy.

Varietas Unggul

Selama La Nina, Junaidi Sungkono me nyarankan petani untuk menggunakan varietas padi yang tahan air, tahan roboh, dan toleran OPT kemarau, seper ti wereng atau penggerek batang. Sa at kemarau basah kerap terjadi hujan disertai angin kencang, “Varietas yang tahan roboh sangat disarankan di samping tahan wereng,” ungkap Dirut PT Agri Makmur Pertiwi, produsen benih padi dan hortikultura di Surabaya itu. Salah satu benih padi varietas unggul yang cocok ditanam menghadapi kendala musim kemarau basah adalah Pak Tiwi-1.

Varietas padi rakitan Junaidi itu unggul dalam genangan air, sa ngat tahan roboh. “Varietas ini sangat tahan roboh, sudah teruji 10 tahun di lapangan. Tahan genangan air, terendam sampai 30 cm tidak masalah. Bahkan di beberapa lokasi diujicobakan minapadi (tanam padi berdamping an dengan budidaya ikan dalam sa tu petak), tahan roboh, tahan wereng, pemakaian pestisida relatif kurang, ikan di bawah tumbuh subur, produksi padi juga tinggi,” urainya. Varietas ini juga memiliki ketahanan yang baik terhadap wereng dengan jumlah anakan banyak, dan jarak ta namnya bisa direnggangkan.

Jika di ban dingkan varietas lain, katanya, umur Pak Tiwi-1 relatif lebih panjang, mengurangi pemakaian pupuk urea hingga 25%, dan menghasilkan nasi pulen. “Bahkan kalau airnya sama de ngan beras lain, nasinya bisa sedikit pera (agak keras). Jadi bisa dua fungsi: pu len dan pera,” imbuhnya. Kebutuh an benih yang sedikit, menghemat pe ma kaian urea dan pestisida membuat Pak Tiwi-1 bisa menurunkan biaya produksi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *